tentang saya

Foto saya
Saya seorang dokter umum yang gemar fotografi, menulis buku dan berbagai artikel kesehatan populer di beberapa media cetak nasional. Saya tertarik pada tema-tema politik politik dan kepemimpinan. Saya menikah dengan Erna Sjafiiah Wardaningsih SE, MSE. Kami telah dikaruniai anak laki-laki bernama Muhammad Fatih dan Musyaffa Abdurrahman Saya kini aktif membina kelompok studi jurnalistik kesehatan populer "Pesta Gagasan" Fakultas Kedokteran Unpad, serta bergiat sebagai kader kesehatan Partai Keadilan Sejahtera

Selasa, 17 Januari 2017

Pemimpin Terbaik

Pemimpin Terbaik

Pemimpin terbaik tidak dilahirkan dalam semalam, apalagi hanya bermodalkan pencitraan dari media-media massa partisan yang menjadi gulma di kebun demokrasi kita. Pemimpin ditempa dengan didikan dan ujian yang panjang agar kelak ia bisa memikul beban amanat umat yang teramat berat.

Begitu Umar bin Khattab r.a ditempa langsung oleh sang Maha Guru kepemimpinan Islam; rasulullah Muhammad SAW yang mulia. Ia mencermati langsung ketelandanan sang rasul dalam menghadirkan kesederhanaan yang sejati, keadilan dalam penegakkan hukum serta prinsip-prinsip dasar manajemen pemerintahan modern.

Umar mereguk mata air kecemerlangan kepemimpinan langsung dari sumber segala kemuliaan. Aa 


Kamis, 12 Januari 2017

Menidurkan Demokrasi

Menidurkan Demokrasi

Demokrasi adalah hiruk-pikuk. Selamanya begitu. Ada voice berbaur dengan noise di ruang publik. Riuh, bahkan cenderung gaduh. Suara yang berbeda bersahutan dan menciptakan irama yang tak melulu harmoni. Di sinilah letak berkahnya, namun tak jarang pula menghadirkan  petaka manakala kita gagal mengelola perbedaan-perbedaan di dalamnya.

Demokrasi yang dikekang atau ditidurkan adalah benih anarki. Pada mulanya, pengekangan demokrasi memang mampu meredam hiruk-pikuk itu, namun itu hanyalah sementara. Karena sejatinya masyarakat tidak pernah berhasil disumpal suaranya dan dibonsai hasrat berpikirnya. Siapa yang kerap menidurkan demokrasi? Ada dua pihak; penguasa diktator atau pemimpin yang tak berprestasi dan cenderung antikritik.

Kursi Goyang

Kursi Goyang

"Kecemasan seumpama menaiki kursi goyang; bergerak, namun tak membuatmu beranjak"

Rabu, 11 Januari 2017

Diam yang Menghancurkan

"Diam itu Emas"

Benarkah selamanya demikian? Semua tentu harus diletakkan sesuai konteksnya. Ada pula diam yang menghancurkan. Kok bisa?

Di negeri antah berantah, konon memimpin sosok  nyeleneh yang dipilih berdasarkan suara terbanyak. Masyarakatnya apatis terhadap pemilu. Pemilu tak kunjung menghadirkan perbaikan, bagitu pandangan mereka. Oleh karena itu siapapun yang hendak memimpin, dipersilahkan maju ke muka. Tak diduga, sikap apatis itu berbuah petaka. Kerusakan tatanan dihadirkan oleh pemimpin baru. Pada akhirnya  masyarakat melawan. Namun tentu saja posisi tak pernah seimbang. Pemimpin itu didukung penuh oleh legitimasi demokrasi dan tentara bersenjata. Mereka yang mulai  bangkit dan melawan penguasa kini dihadapkan pada moncong senjata. Darah membanjir di pelosok-pelosok kota. Gedung-gedung dirobohkan sehingga menyisakan puing-puing yang menggunung. Nyawa manusia tak lagi punya harga.


Sahabatku, jangan diam terhadap fenomena kerusakan di negerimu. Bangkit dan ambil tanggungjawab untuk memperbaikinya. Mumpung masih ada waktu. Sebelum semuanya berubah menjadi puing dan genangan darah.



Mengapa Sejarah Selalu Berulang?

"Sejarah selalu berulang"

Pernahkah di antara kita ada yang bertanya, "Mengapa sejarah selalu berulang?"
Mungkin jawabannya ialah karena manusia kerap kali alpa dan enggan belajar dari kesalahan di masa lampaunya.

Pemimpin

“Memimpin adalah mengambil tanggung jawab. Pemimpin sejati merupakan risk-taker yang sesungguhnya” Dr Genis Ginanjar